Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Baper

Keluh Kesah Karena Penat Menyengat

Oh God! I really miss my blog! It’s been a while since my last post on this blog. (Sebelum lanjut, ada baiknya jika kalian menyetel lagu yang telah aku sematkan di bawah sembari membaca tulisanku ini). Sang Kala selalu tak habis-habis memaksaku untuk bersibuk-sibuk ria tanpa memberikanku waktu luang untuk menulis di blog ini. Di semester ini saja, aku sudah mulai mengurusi proposal skripsi. Belum lagi sejak Februari kemarin aku mulai magang di sebuah media daring berskala nasional yang kebetulan memiliki kantor di Surabaya. Ya, hingga tulisan ini diketik, aku sedang menjalani masa magang di sebuah media daring yang fokus utamanya adalah membagikan berita-berita baik tentang Indonesia. Secara umum, aku merasa bahagia bisa mendapat kesempatan untuk berkontribusi pada media tersebut. Suasana kantor serasa rumah. Bahkan makan siang pun biasanya mengandalkan jasa katering yang menyajikan masakan-masakan rumah. Mungkin hal tak enak yang kurasa selama magang adalah tenggat waktu...

Haruskah Kita Mencoreng Citra Seseorang yang Kita Benci?

Jangan pernah menghina sekelompok orang yang memiliki pandangan yang bertentangan denganmu. Sekalipun pandangan tersebut bagimu terasa menjijikkan dan rendah sekalipun. Karena justru dari hinaan dan caci-maki itulah, kelompok yang engkau benci tersebut mampu memosisikan dirinya sebagai kelompok yang tertindas. Terlebih dengan adanya kalimat "orang yang berada di jalan yang benar akan selalu dicaci-maki orang banyak." Hinaan yang kau lontarkan justru mampu menjadi justifikasi bagi mereka untuk memperjuangkan pandangan hidup mereka yang bisa saja memang tidak kompatibel dengan hajat hidup orang banyak yang meskipun berbeda ragam, namun sama-sama mengharapkan kehidupan yang damai. Dengan kata lain, mulutmu harimaumu. Hinaan yang kau lontarkan menjadi makanan yang menghidupi mereka. Bumerang itu nyata, kawan. Wajar memang apabila kita merasa tidak setuju dengan pandangan suatu kelompok. Dan seringkali emosi kita tergerak untuk melawan. Namun di sinilah kelemahan kita....

Jalur Besi Menuju Masa Lalu

Dulu... Iya, duluuu banget! Pas tahun pertama di SMA. Ini adalah satu dari sedikit hal yang cukup membuatku terhibur. Pulang sekolah bareng temen-temen baru. Seringkali bareng sama temen-temen satu kos (yang juga baru). Biasanya sih, di sepanjang jalur ini kita suka ngobrol-ngobrol bareng. Mulai dari tugas dan ulangan harian yang benar-benar terjadwal, nyorakin cie-cie ke temen yang jadi sasaran perjodohan paksa (jadi inget yang di sana, apa kabar?), sampai ngobrolin soal game atau film. Segala bahan obrolan masuk deh di situ. Karena jalur kereta api ini aktif, pada awal kami lewat sini sih mesti was-was. Takut jadi korban kecelakaan konyol. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kami merasa santai saja acapkali lewat sini. Toh kami lama-lama hapal dengan jadwal kereta api di sini. Kalau ada kereta lewat, ya tinggal minggir. Bahkan seringkali kami menguji keseimbangan tubuh dengan berjalan meniti rel. Serasa jadi ninja kalau main beginian, hehehe. Seperti kereta api ...

La Nuit Porte Conseil

Harpsichord Concertos BWV 1052-1058 gubahan Johann Sebastian Bach, seorang komponis Jerman pada era Barok, menemaniku pada tiap detik dalam meniti malam yang kian kelam dan dalam.

Siang Hari di Sebuah Bangku Kantin

Siang setelah waktu salat Jumat, aku bertemu dengan seorang wanita di kantin fakultas tetangga. Ia duduk bersama kawan-kawannya yang lain di meja tepat di depan aku duduk dan menyantap makanan pada saat itu. Kecurigaan awal muncul ketika beberapa kawannya yang wanita, termasuk ia, melirik ke arah belakang. Aku merasa mungkin mereka melirikku, atau orang lain di belakangku. Aku tak mengacuhkan hal itu pada awalnya. Namun kecurigaan bertambah ketika aku pergi memesan minum tak jauh dari tempatku duduk. Wanita itu juga beranjak dari tempat duduknya untuk memesan sebuah makanan, yang jaraknya tak jauh dari tempatku memesan minum. Ketika tak sengaja melihat kearahnya, terlihat beberapa detik kemudian pandangannya tertuju padaku. Agar tak terlihat sebagai seorang penguntit, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain untuk beberapa saat. Detik berikutnya, rasa penasaran muncul dan kulihat kembali dirinya. Ia masih menatapku. Aneh. Tidak biasanya seorang wanita yang tak kukenal melihatku ...

The Farmboy and his Moonlight

Here is the journal entry of Sir Roddwick Sonnkarst, member of the Order of Crimson Halfwing, on 16th Seftambria 215. "Your presence is no longer important for Her Excellency, Sir Knight. Or perhaps you were knighted for nothing to begin with." "Your light is dim, Sir Knight. You will not stand a chance against me, Her most favored knight!" "I believe that your knighthood is invalid. How could she choose you as Her Knight?" "You farmboy are not supposed to be here. Go back to your farmhouse, you useless knight!" "Your service here is futile that she won't even care if you sacrifice your own life for her."

Farewell February, March Forward!

Februari Merupakan bulan kedua dalam penanggalan Masehi. Ah, buat apa aku tulis sebuah pembukaan yang membosankan? Aku tak pandai dalam membuat pembukaan yang nyaman dibaca. Jadi lebih baik aku langsung saja bercerita disini. Di bulan ini, banyak peristiwa dan pelajaran yang sangat menarik bagiku sampai-sampai akupun tergerak untuk menulis di blog ini lagi, setelah sekian lama aku tak pernah mengunjungi blogku sendiri. Aku tidak tahu apakah ada orang yang tahu dan mau membaca entri blogku, yang hingga tulisan ini aku kerjakan, masih berjumlah dua. Namun aku akan tetap menceritakan apa saja peristiwa dan pelajaran yang kudapatkan secara special di bulan ini. Dengan diiringi lagu-lagu Bossa Nova yang baru-baru ini aku unduh, ijinkan aku menuliskan segala apa yang telah kulalui dan kualami.