Skip to main content

Posts

Keluh Kesah Karena Penat Menyengat

Oh God! I really miss my blog! It’s been a while since my last post on this blog. (Sebelum lanjut, ada baiknya jika kalian menyetel lagu yang telah aku sematkan di bawah sembari membaca tulisanku ini). Sang Kala selalu tak habis-habis memaksaku untuk bersibuk-sibuk ria tanpa memberikanku waktu luang untuk menulis di blog ini. Di semester ini saja, aku sudah mulai mengurusi proposal skripsi. Belum lagi sejak Februari kemarin aku mulai magang di sebuah media daring berskala nasional yang kebetulan memiliki kantor di Surabaya. Ya, hingga tulisan ini diketik, aku sedang menjalani masa magang di sebuah media daring yang fokus utamanya adalah membagikan berita-berita baik tentang Indonesia. Secara umum, aku merasa bahagia bisa mendapat kesempatan untuk berkontribusi pada media tersebut. Suasana kantor serasa rumah. Bahkan makan siang pun biasanya mengandalkan jasa katering yang menyajikan masakan-masakan rumah. Mungkin hal tak enak yang kurasa selama magang adalah tenggat waktu...

Pralaya Garda Marcapada

          Pada jaman dahulu kala, ada seorang janda miskin bernama Mbok Rondo yang hidup di desa. Pekerjaannya sehari-hari hanyalah mencari dan menjual kayu bakar. Mbok Rondo hidup sebatang kara dan kesepian. Ia ingin sekali memiliki seorang anak walaupun sudah lama ia telah ditinggal mati oleh suaminya. Hingga pada suatu hari ia memutuskan untuk meminta tolong kepada seorang raksasa sakti yang hidup di dalam hutan yang sangat lebat. Ia berharap agar sang raksasa mau mengabulkan permintaannya itu.

Haruskah Kita Mencoreng Citra Seseorang yang Kita Benci?

Jangan pernah menghina sekelompok orang yang memiliki pandangan yang bertentangan denganmu. Sekalipun pandangan tersebut bagimu terasa menjijikkan dan rendah sekalipun. Karena justru dari hinaan dan caci-maki itulah, kelompok yang engkau benci tersebut mampu memosisikan dirinya sebagai kelompok yang tertindas. Terlebih dengan adanya kalimat "orang yang berada di jalan yang benar akan selalu dicaci-maki orang banyak." Hinaan yang kau lontarkan justru mampu menjadi justifikasi bagi mereka untuk memperjuangkan pandangan hidup mereka yang bisa saja memang tidak kompatibel dengan hajat hidup orang banyak yang meskipun berbeda ragam, namun sama-sama mengharapkan kehidupan yang damai. Dengan kata lain, mulutmu harimaumu. Hinaan yang kau lontarkan menjadi makanan yang menghidupi mereka. Bumerang itu nyata, kawan. Wajar memang apabila kita merasa tidak setuju dengan pandangan suatu kelompok. Dan seringkali emosi kita tergerak untuk melawan. Namun di sinilah kelemahan kita....

Hormones, Jiwa Kritis Remaja, dan Betapa Pandirnya Drama Remaja Indonesia

I just watched the first episode of this series and my mind is blown. Awal-awal menonton episode pertama, saya mengira bahwa gambaran yang ditampilkan adalah anak-anak sekolah menengah beserta kenakalan-kenakalannya. Namun saya menyadari bahwa kenakalan-kenakalan yang disajikan di dalam serial tersebut tidaklah biasa.

Menyambut 1 Syawal 1437 Hijriyah

Ramadan Tahun 1437 Hijriyah bukanlah bulan yang mudah bagi kita semua. Tidak hanya diuji ketahanannya untuk menahan lapar, dahaga, serta nafsu duniawi, namun kualitas kesabaran kita juga diuji oleh serangkaian peristiwa yang mengiringi. Aksi teror yang memakan korban jiwa, pembunuhan massal, Timur Tengah yang masih membara dan segenap penjuru dunia yang turut memanas, hingga di negeri ini yang masih banyak ditemui golongan-golongan yang rentan akan gesekan dan konflik, mencederai toleransi dan tenggang rasa yang sejatinya merupakan nilai-nilai luhur kita. Sesungguhnya ini adalah ujian bagi segenap umat manusia. Bisa saja para pelaku menjustifikasi aksi-aksi terornya dengan nilai-nilai agama maupun ideologi lainnya. Namun kesalahan mereka dalam menerjemahkan konteks nilai  yang mereka pegang membuat mereka lupa akan kondisi orang lain yang berbeda. Hilangnya rasa saling pengertian inilah yang membuat mereka, dan mungkin kita, mengutamakan agitasi amarah dan mengesampingkan nila...

Kartini dan Gerakan Kebaya Nasional

Hari Kartini dirayakan oleh sejumlah instansi di Indonesia dengan perintah mengenakan kebaya/pakaian tradisional lainnya. Sesederhana itu. Tanpa perlu mengadakan kajian mendalam ataupun sekedar membaca cucuran hati dan perasaan Kartini yang kelak menjadi sebuah ‘magnum opus’ berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ (menurut saya, judul ini akan terasa cocok jika digunakan sebagai motto PLN). Seolah-olah Kartini adalah seorang tokoh penggagas pakaian tradisional. Sebagai sebuah simbol resistensi terhadap gelombang modernisasi fashion-fashion modern.

Selfie: Antara Aktualisasi Diri dengan Fog of War

Siapa yang masih asing dengan kata selfie? Tidak perlu saya lakukan survei atau jajak pendapat, semua orang yang mampir (atau tersesat) untuk membaca tulisan ini setidaknya tahu apa itu selfie. Bahkan sebagian besar pasti pernah melakukan cara mengambil foto diri dengan menggunakan gawai pribadi maupun milik kawan sendiri. Meskipun awalnya malu-malu, namun lama-kelamaan seseorang akan terdorong untuk mengulangi hal serupa lagi dan lagi. Tentu saja jika mendapat respon positif. Jika respon yang didapat negatif, maka pilihannya ada dua. Entah itu merasa tahu diri dan berhenti, atau pasang muka tebal dan mengulangi langkah yang serupa. Kiranya ini yang menyebabkan kita mampu menyaksikan berbagai macam foto selfie rasa gado-gado di media sosial.